This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 08 Agustus 2012

Manusia Baru

 

Apa saja yang berubah pada diri kamu dalam pergantian tahun demi tahun? Mungkin tubuhmu bertambah besar dan tinggi. Begitu pula jempol kakimu yang kejepit, karena sepatu yang kamu kenakan sudah kesempitan. Semua gejala fisik itu boleh jadi menggelisahkan kamu, sekaligus menyenangkan, karena kamu merasa berbeda dengan konsidi sebelumnya. Kamu punya kesempatan untuk dapat baju dan sepatu baru, membelinya dengan uang tabungan yang kamu kumpulkan.

Kamu sudah bisa bilang mirip Zinedine Zidane (kapten kesebelasan sepakbola Perancis) atau George Weah (mantan pesepakbola terbaik dunia asal Liberia yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden), karna mampu bergerak amat lincah. Kamu mungkin semakin percaya diri untuk berdakwah dengan publik, karena memiliki cukup banyak hafalan ayat dan hadits serya do’a, seperti yang sering dilantunkan Muammad Arifin Ilham atau Hidayat Nur Wahid. Atau, kamu makin jado menulis puisi dan cerpen seperti Neno Warisman dan Helvy Tiana Rosa?



Semua kelebihan itu membentuk karakter kamu yang baru. Jangan terperangkap dengan kekurangan dan kelemahan yang mungkin kamu rasakan, karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Justru memahami kelemahan dan kekurangan dalam diri kamu akan membantu upaya meningkatkan kekuatan dan kelebihan di sisi yang lain.

Nah, sekarang perhatikan adik kamu yang belum masuk TK, dia sudah mulai belajar berbicara sepatah-dua patah kata dan menggambar coret-coretan. Suatu hari mungkin dia akan berteriak, “Adik sudah pandai menulis dan menggambar, besok mau masuk sekolah!” . Padahal, tulisan dan gambar yang dia maksud hanya cakar ayam. Jangan ditertawakan. Itu bukti penumbuhan kepercayaan diri (self confident) yang dibutuhkan oleh semua orang untuk mengarungi kehidupan penuh tantangan. Hanya dengan dosis PD (percaya diri) yang memadai, kamu akan sukses melewati ujian dan cobaan.

Adik kamu yang lain, masih duduk di bangku SD. Suatu kali dia tertawa kegirangan, sebab mampu mengendarai sepeda angin dengan lancar, meski sedikit oleng kiri dan kanan. Dia berkata tanpa ragu, “Besok asik mau berangkat sekolah sendiri naik sepeda! Tak usah diantar Ummi atau Abi!”. Ayah-Ibu kamu pasti khawatir, namun mereka juga menyadari perlunya sokongan dalam proses penumbuhan jiwa kemandirian. Sebaiknya kamu menawarkan diri untuk mengantar adik kamu ke sekolah tiap pagi, sehingga kalian bisa bersepeda berdua, menyusuri jalan kampong yang aman dan bebas dari lalu lintas padat beresiko.

Adik kamu yang di SMP suatu waktu merajuk untuk diizinkan pergi berkemah. Kemping nih, yee! Atau, bermalam di masjid alias mabit, dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah. Ortu kamu lebih cemas lagi, karena kebetulan adik kamu itu seorang gadis manis. Nah, lagi-lagi dalam situasi seperti itu, kamu bisa menawarkan jasa untuk menjadi pendamping. Kamu bisa ikut mendaftar kemping, dengan syarat bawa tenda sendiri, atau kamu ikut mabit – yang ini tak perlu tenda, karena menginap di ruangan masjid.

Pendeknya, setiap orang, bersamaan dengan perjalanan waktu dan pertumbuhan fisik-jiwanya berkeinginan untuk menjadi “manusia baru”. Jangan perlakukan mereka seperti hari-hari sebelumnya.

Sebagaimana juga kamu, yang selepas SMU,  mungkin ingin melanjutkan studi ke sebuah pesantren atau perguruan tinggi yang jauh di luar kota. Kamu ingin menghadapi tantangan baru, walau itu tak berarti mengurangi rasa saying kepada ortu dan sanak-saudaramu. Perpisahan karena tuntutan idealism – melanjutkan studi atau mencari pekerjaan – adalah bukticintaan khas manusia. Salah satu tanda “kebaruan” jati diri manusia biasanya ditandai oleh kemampuan mereka menjaga jarak (hijrah) dari lingkungan asal.

Karena itu, anak-anak muda Minangkabau (Sumatera Barat) biasa hidup merantau, apabila mereka telah mencapai usia aqil-baligh. Demikian pula anak-remaja Aceh tinggal di “meunasah” atawa surau, tidak tidur di rumah ortu, bila sudah mimpi indah. Itulah suatu langkah menuju manusia baru yang penuh tanggung-jawab.

Dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya kita tahu, betapa Islam melahirkan manusia baru. Contohnya, Umar bin Khathab, seorang panglima perang yang manus Islam berkat dakwah adik perempuanya, Fathimah.

Islam juga membangun masyarakat atau umat yang baru, persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar – sekaligur suku Aus dan Khajraj yang selama ini bermusuhan di Madinah. Setelah itu, umat Islam generasi pertama memelopori peradaban baru, yang meruntuhkan peradaban Romawi (materialism) dan Persia (atheism).

Tugas kita semua : menjadi manusia baru untuk bergabung dalam barisan umat baru, demi mencapai cita-cita peradaban baru. Nahnu ruhul jaded, ini bukan sekedar judul nasyid!

Sumber

Senin, 06 Agustus 2012

DNA MANUSIA MEREKAM SEMUA PERBUATAN MANUSIA SELAMA DIDUNIA



Salah satu hal yang sangat berperan dalam upaya kita meningkatkan takwa pada Allah SWT adalah mengingat mati dan kehidupan di akhirat. Bahwa semua makhluk tanpa kecuali akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Entah nanti, atau besok, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, kita semua pasti akan mati.  كل نفس ذائقة الموت  (Setiap makhluk hidup pasti akan mati). Dan kita, sebagai umat Islam memang diperintahkan untuk sering-sering ingat mati agar hidup kita menjadi baik. Nabi bersabda: أكثروا ذكر هاذم اللذات (Perbanyaklah mengingat pemutus keenakan duniawi).

Selanjutnya, berkaitan dengan kehidupan di akhirat, ada dua hal utama yang harus selalu menjadi peringatan bagi kita. Pertama, bahwa hidup di dunia ini teramat sangat sementara, dan hidup di akhirat itu tiada batasnya. Andaikan saja kita dikaruniai umur panjang sampai 100 tahun, maka sebenarnya itu hanyalah sepersepuluh hari akhirat. Sebab 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.



Ini didasarkan pada ayat ke-7 surat As-Sajdah yang berarti:

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.

Jadi, secara matematis masa 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit (menurut perhitungan akhirat). Lebih detil lagi, 1 jam akhirat = 41,66 tahun, 1 menit = sekitar 255 hari, dan 1 detik = 4,25 hari.

Kedua, bahwa semua perbuatan yang kita lakukan di dunia terekam oleh tubuh kita. Kita harus tahu bahwa agama kita tidak mengajarkan apa yang sering diungkapkan orang “surgo nunut neroko katut” (ke surga numpang, ke neraka ikut). Karena yang benar adalah, orang masuk surga karena amal baiknya, dan yang masuk neraka karena kesalahannya sendiri. Sehingga ada sebuah ilustrasi (penggambaran) di dalam al-Quran surat al-Anam ayat 94. Seolah-olah ketika nanti di hari Kiamat dan kita berbondong-bondong menuju pengadilan Allah, terpampang sebuah sepanduk besar yang artinya:

Dan sungguh kalian telah datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kalian pada mulanya. Dan kalian tinggalkan di dunia apa yang telah Kami karuniakan pada kalian. dan Kami tiada melihat bersama kalian pemberi syafa’at yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu. Sungguh telah terputus hubungan-hubungan di antara kalian dan lenyaplah apa yang dahulu (di dunia) kalian anggap (sebagai sekutu Allah).

Kita lahir di dunia dari dua garba ibu sebagai pribadi-pribadi. Tetapi kemudian kita dituntut untuk hidup yang baik. Dan kebaikan kita di dunia ini selalu diukur secara sosial. Perbuatan baik adalah perbuatan baik dalam konteks sosial. Itulah makanya manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang harus selalu memikirkan sesamanya. Seperti dilambangkan dalam ucapan terakhir setiap kali kita salat, yaitu assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh (semoga keselamatan dan keberkahan dari Allah senantiasa tercurah untuk kalian) sambil menengok ke kanan dan kiri. Seakan ini adalah peringatan dari Allah SWT, “Kalau kamu sudah melaksanakan salat untuk mengingatku, maka sekarang buktikan bahwa kamu mempunyai tekad baik untuk memperhatikan sesama makhluk di sekitarmu. Tengoklah kanan-kirimu karena masih banyak yang membutuhkan bantuan.”

Jadi kita menjadi makhluk sosial di dunia ini. Tapi ketika kita mati nanti, dan memasuki alam kubur, kita menjadi makhluk pribadi kembali. Seluruh perbuata kita di dunia, baik dan buruk, hanya kita sendiri yang menanggung. Allah telah memperingatkan dalam surat Luqman ayat 33 yang artinya:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kalian, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kalian.

Pengadilan Allah sama sekali tidak menerima tebusan. Tebusan (عدل) dalam sistem hukum negara kita tidak dikenal. Makanya orang yang sedang menjalani hukuman di penjara, kalau dia mau keluar untuk sementara dia harus menyuap petugas. Istilahnya menyuap tidak menebus. Tapi di negara Inggris, sistem hukumnya mengakui adanya tebusan, atau dikenal dengan istilahbail. Di akhirat kelak, sama sekali tidak ada tebusan apalagi suap. Semuanya harus berhadapan dengan Allah sendiri-sendiri. Praktek pengadilan Ilahi di hari akhirat kelak telah dijelaskan dengan gamblang dalam surat Yasin ayat 65 yang artinya:

Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedankan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.



Jadi, badan kita ini akan menjadi saksi. Jika mulut mencoba mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi. Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.

Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang tanpa terekam. Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam diri kita sendiri. Sebagai contoh dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA (deoxyribonucleic acid) dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel. Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop). Tetapi justru di dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.

Oleh karenanya, jika al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya. Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tsb.

Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kulaitas hidup kita secara serius. Demikian semoga bermanfaat.



oleh: Ustadz Arif Hidayat, Lc

Spirit Ramadhan Memberikan Kita Kebahagiaan

Bahagia sering sekali dihubungkan dengan kesejahteraan dan materi. Padahal, bahagia itu terletak di dasar hati.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sudah sangat sering saya menyampaikan hal ini. Mudah sekali kita membuat urutan daftar kekayaan para konglomerat dunia, namun sulit bagi kita untuk membuat urutan daftar kebahagiaan. Kekayaan materi itu kuantitatif, sehingga mudah dibuat urutan, sedangkan kebahagiaan itu kualitatif. Berikut adalah beberapa nama konglomerat dunia yang berhasil diurutkan jumlah kekayaannya, di http://uniqpost.com.

Carlos Slim Helu tiga kali menempati posisi tertinggi di daftar 10 orang terkaya di dunia, berturut-turut dari tahun 2010. Kekayaan pebisnis telekomunikasi asal Meksiko ini mencapai US$ 69 miliar. Berikutnya, pemilik Microsoft, Bill Gates menempati urutan kedua dengan total kekayaan mencapai US$ 61 miliar. Urutan berikutnya adalah Waren Buffet, pemilik Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan konglomerasi yang memiliki banyak anak perusahaan. Nilai kekayaannya menembus angka US$ 44 miliar. Berikutnya adalah Amancio Ortega dengan kekayaan sebesar US$ 37,5 miliar, dari Zara.

Kita membayangkan, betapa mudahnya mereka membeli kebahagiaan. Namun, benarkan bahagia bisa dibeli dengan materi? Sebagiannya bisa, tapi bagian lainnya tidak bisa. Perhatikan apa yang bisa dibeli oleh orang-orang kaya, yang memiliki harta melimpah ruah, namun tidak memiliki spiritualitas atau ruhani yang mencukupi.

Orang-orang kaya itu bisa membeli ranjang berlapis emas murni, namun tidak bisa membeli tidur nyenyak. Mereka bisa membeli rumah mewah di tengah kemegahan dan hingar bingar Times Square New York, namun tidak bisa membeli ketenangan hati. Mereka bisa membeli obat-obatan mahal, namun tidak bisa membeli kesehatan. Mereka bisa membeli rumah sakit bertaraf internasional dengan dokter-dokter spesialis yang sangat lengkap, namun tidak bisa membeli kehidupan. Mereka bisa membeli seks, namun tidak bisa membeli cinta.

Lihat apa yang bisa dibeli oleh Christina Aguilera. Mudah baginya membeli rumah mewah di kawasan elit Beverly Hills, namun toh ia merasa tidak bahagia. Penyanyi Amerika Serikat itu menjual rumah mewah miliknya di Beverly Hills, dengan harga US$13,5 juta atau setara dengan Rp121,5 miliar. Dilansir dari lamanDaily Mail, rumah tersebut dibeli Aguilera sebesar US$11,5 juta atau setara dengan Rp103,5 miliar dari keluarga Osbourne pada 2008 lalu. Aguilera menjual rumah tersebut, setelah bercerai dari Jordan Bratman. Rumah Aguilera menerapkan berbagai desain interior, mulai dari gothic hingga kontemporer.

Rumah yang terdiri dari enam kamar tidur dan sembilan kamar mandi ini didominasi dengan warna pink dan merah. Rumah tersebut juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari gym, ruang permainan, ruang untuk menonton film, studio rekaman, hingga kolam renang. Ternyata Aguilera hanya bisa membeli rumah mewah di kawasan sangat bergengsi, namun tidak bisa membeli kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Lihat pula apa yang bisa dibeli oleh Oprah Winfrey. Ratu talk show ini memiliki sebuah hunian mewah senilai US$55 atau sekitar Rp 500 miliar di kawasan Santa Barbara, California. Rumah seluas 2.136 meter persegi dengan panorama gunung dan laut itu dilengkapi home theater, danau buatan, enam kamar tidur, 14 kamar mandi, dan 10 perapian. Namun, wanita yang dinobatkan sebagai wanita pesohor terkaya dengan kekayaan senilai US$ 2,4 miliar itu memutuskan tak menempatinya. Sehari-sehari, ia memilih tinggal di sebuah villa bergaya Italia seharga Rp 60 miliar.

Ramadhan dan Kebahagiaan

Spirit Ramadhan telah membangkitkan religiusitas kita. Pada bulan mulia ini kesadaran ruhani memuncak, dimana pelatihan pengendalian diri berjalan sangat efektif. Suasana spiritual kita semakin meningkat, dan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Inilah yang menjadi pondasi bagi hadirnya perasaan bahagia dalam jiwa, dalam dasar hati kita.

Penelitian yang dilakukan oleh tim University of Illinois bersama Gallup Organization yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology, Agustus 2011 membuktikan bahwa saat menghadapi konflik atau situasi sulit, orang yang religius lebih bisa bertahan dan tetap merasakan kebahagiaan dibanding kaum atheis.

Peneliti melakukan analisa data yang dikumpulkan dari tahun 2005 hingga 2009 terhadap orang di 150 negara yang berbicara tentang agama, kepuasan hidup, dan dukungan sosial. Peneliti menemukan bahwa agama memberi dukungan emosional ketika kebutuhan mendasar seperti makanan, pekerjaan, rasa aman, dan pendidikan tidak terpenuhi. Selain itu, orang yang religius cenderung merasa lebih terhormat dan lebih sedikit memiliki perasaan negatif dibanding mereka yang tidak religius.

Penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa orang religius lebih bisa merasakan kebahagiaan daripada mereka yang tidak religius. Senyampang masih Ramadhan, mari kita optimalkan untuk peningkatan ruhaniyah kita. Dengan itu kita akan memiliki modal dasar untuk selalu merasakan kebahagiaan.[]